EFEK MEDIA
Fakta-fakta baru ini dapat
mengakibatkan perubahan pradigma (paradigm
shift) yaitu pemikiran kembali secara mendasar dan bahkan radikal mengenai
apa yang kita percaya sebagai benar (Khun, 1970). Menurut Baran (2002) teori
komunikasi massa juga terbuka terhadap perubahan peradigma yang antara lain
disebabkan kemajuan teknologi dan munculnya media baru, keadaan ini dapat
mengubah situasi komunikasi massa secara fundamental.
Baran (2002) mengemukakan adanya empat
priode perkembangan teori komunikasi massa sebagai berikut ;
Ø Priode Teori Masyarakat Massa.
Teori ini menyatakan bahwa media massa menyalahgunakan pengaruhnya (corrupting influence) dan merusakan
tatanan sosial, sementara rakyat biasa tidak berdaya menghadapi pengaruh
mereka. Teori S-R ini memiliki banyak nama lain seperti teori jarum hipodemis (hypodermic needle theory) atau peluru
ajaib (magic bullet theory). Disebut
demikian karena teori ini menyakini bahwa kegiatan mengirimkan pesan sma halnya
dengan tindakan menyuntikkan obat yang bisa langsung masuk ke dalam jiwa
penerima pesan. Singkatnya, menurut teori ini media massa amat perkasa dalam
memengaruhi penerima pesan.
Ø Priode Perspektif Ilmu
Pengetahuan. Teori yang menyatakan media massa
sangat berkuasa dalam memengaruhi masyarakat sebagaimana teori masyarakat
massa. Teori Lazarsfeld yang disebut dengan teori aliran dua tahap (two step theory) mengenai media massa
komunikasi massa yang berasal dari era ini.
Ø Priode Teori Efek Terbatas.
Hasil penelitian Hovland ini dikenal dengan nama teori perubahan sikap (attitude change theory) yang sekaligus
menandai awal priode teori efek terbatas. Teori terkenal di bidang komunikasi
massa yang akan kita bahas pada bab ini yaitu teori penggunaan dan kepuasan
media (Uses-and-Gratifation of media), dan teori kultivasi merupakan dua teori
yang dimiliki dasar pemikiran bahwa media massa memberikan efek terbatas kepada
khalayak.
Ø Priode Teori Kultural.
Stanley Baran dan Dennies Davis (1995) menyatakan bahwa teori ini memiliki
asumsi bahwa pengalaman kita terhadap kenyataan merupakan suatu konstruksi
sosial yang berlangsung terus-menerus.
10.3 TEORI SPIRAL KEHENINGAN
Teori spiral kebisuan mengajukan
gagasan bahwa orang-orang yang percaya bahwa pendapat mereka mengenai barbagai
isu publik merupakan pandangan minoritas cenderung akan menahan diri untuk
mengemukakan pandangannya mewakili mayoritas cenderung untuk mengemukakannya
kepada orang lain. Neuman (1983) menyatakan bahwa media lebih memberikan
perhatian pada pandangan mayoritas, dan menekan pandangan minoritas.
10.3.1 Opini Publik
Noelle Neuman menyatakan bahwa opini
ini adalah drajat persetujuan atau derajat kesepakatan dari suatu masyarakat
tertentu. Menurutnya, dalam proses spiral kebisuan, opini adalah sama atau
sinonim sebagai sesuatu yang dipandang dapat diterima. Noelle Neuman
mendefinisikan opini publik sebagai berikut: (sikap atau prilaku yang harus dikemukakan seseorang di depan publik
jika ia tidak ingin dirinya terisolasi; dalam wilayah kontroversi atau
perubahan, opini publik adalah sikap yang dapat ditunjukkan seseorang tanpa
bahaya isolasi terhadap dirinya). Neuman (1983) menyatakan, bahwa media
lebih memberikan perhatian pada pandangan mayoritas, dan menekan pandangan minoritas.
10.3.2 Peran Media
Spiral kebisuan merupakan gejala atau
fenomena yang melibatkan saluran komunikasi personal dan komunikasi melalui
media. Media berfungsi menyebarluaskan opini publik yang menghasilakan pendapat
atau yang dominan. Sementara individu dalam hal menyampaikan pandangannya akan
bergantung pada pandangan yang dominan, sedangkan media, pada gilirannya
cenderung memberitakan pandangan yang terungkap, dan karenanya spiral kesunyian
berlanjut terhadap opini publik. Noelle Neuman menjelaskan bahwa media tidak
memberikan interpretasi yang luas dan seimbang terhadap realitas secara
terbatas dan sempi, Media massa memiliki tiga sifat atau karakteristik yang
berperan membentuk opini publik yaitu: ubikuitas, kumulatif dan konsonan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar